Selasa, 14 Oktober 2014

AKHLAK DAN ILMU PENGETAHUAN




 by. andy.ansyah20@gmail.com
A.    Pengantar
Setiap ilmu tidak mungkin dapat berdiri sendiri, artinya harus mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu yang lain, baik ilmu agama maupun non agama. Demikian halnya ilmu akhlak, ilmu tersebut juga mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu yang lain, hal itu dikarenakan kita sebagai manusia tidak mungkin mempelajari satu macam ilmu saja, tetapi berbagai macam ilmu.
Berbagai macam ilmu pengetahuan sebenarnya mempunyai induk yang sama yaitu filsafat. Filsafat merupakan induk dari semua ilmu termasuk ilmu akhlak, dan ilmu akhlak merupakan salah satu cabang dari filsafat, maka dari itu antara cabang satu dengan cabang yang lain pasti mempunyai hubungan.
Sebelum kami memulai pembahasan mengenai hubungan tersebut, nampaknya tidak etis kalau kita tidak mengetahui dahulu pengertian ilmu akhlak. Maka dibawah ini kami sebutkan pengertian ilmu akhlak, walaupun sebenarnya hal itu sudah ada pada pembahasan yang lalu.
Menurut Dr. Taufiq at Tawil :
“Ilmu akhlaq ialah ilmu yang menggariskan modul contoh utama yang wajar diikuti oleh manusia dalam tingkah-lakunya.” Atau seperti yang dijelaskan oleh Dr. Zakaria Ibrahim bahwa ahli falsafah hampir sepakat mengatakan bahawa ilmu akhlak ialah ilmu yang berusaha menemukan  contoh-contoh tingkah laku manusia yang utama, menggasaskan konsep dan pengertian, menentukan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam tingkah lakunya.
Menurut Prof. Dr. Omar Attoumi Asy-Syaibini:
“Ilmu akhlak ialah ilmu yang mengkaji hakikat atau sifat tingkah laku yang berakhlak, hakikat kebaikan (al-khair) dan keburukan (asy-syar), hak dan kewajipan, hati -nurani (conscience), hukum-hukum ahklak, tanggung jawab akhlak, motivasi dan tujuan tingkah laku. Ilmu ini juga meneliti asas-asas teori yang menjadi dasar keyakinan akhlak, menentukan contoh-contoh utama, kaedah umum yang seharusnya menjadi pedoman tingkah laku manusia.”
Lebih jelas Dr. Miqdad Yalchin menakrifkan akhlak sebagai ‘prinsip’ dan kaedah yang mengatur tingkah laku (perangai) manusia yang ditentukan oleh wahyu dalam konteks mengatur kehidupan manusia di dunia untuk mencapai matlamat wujudnya yang paling sempurna.
Uraian-uraian yang diberikan oleh para ulama membayangkan bahwa akhlak Islam mengatur empat perhubungan dasar:
1. Hubungan manusia dan jin dengan Allah (Pencipta).
2. Hubungan manusia dan jin sesamanya.
3. Hubungan manusia dan jin dengan alam.
4. Hubungan manusia dan jin terhadap dirinya sendiri.
Jadi yang dimaksud ilmu akhlak adalah ilmu yang mengkaji prinsip yang mengatur tingkah laku manusia yang aturannya sudah jelas terdapat dalam wahyu yang tujuannya untuk mencapai kehidupan yang teratur.
Maka dari itu akhlak sebagai ilmu mempunyai hubungan dengan ilmu pengetahuan yang lain. Sebenarnya akhlak mempunyai hubungan dengan berbagai macam ilmu yang jumlahnya sangat banyak, bahkan dapat dikatakan setiap ilmu pengetahuan berhubungan dengan ilmu akhlak. Tetapi di sini kami hanya membatasi hubungan dengan ilmu yang kami anggap penting. Karena pembahasan mengenai hubungan antara ilmu akhlak dengan berbagai disiplin ilmu yang lain belum dibahas secara mendetail, maka penulis akan berusaha untuk membahas secara lebih mendetail.
B.     Hubungan  Ilmu Akhlak Dengan Ilmu Tasawuf.
Dalam rangka membahas lebih mendalam tentang hubungan ilmu akhlak dengan ilmu tasawuf, kita harus mengetahui dahulu pengertian tasawuf secara global. Karena pembahasan mengenai pengertian secara lebih mendalam akan dibahas tersendiri. Namun untuk memulai pembahasan ini, maka paling tidak kita mengetahui tentang apa yang terkait dengan yang akan kita bicarakan.
Secara etimologi, pengertian tasawuf dapat dilihat menjadi beberapa macam pengertian, seperti dibawah ini:
Pertama, tasawuf berasal dari istilah yang dikonotasikan dengan ahlu suffah, yang berarti sekelompok orang di masa Rasulullah yang hidupnya banyak berdiam di serambi-serambi masjid. Kedua yaitu berasal dari kata shafa yang artinya bersih atau suci. Ketiga ada yang mengatakan berasal dari kata shaf yang berarti barisan dalam shalat.
Sedangkan secara terminologi terdapat beberapa pendapat, antara lain menurut Muhammad  Amin al-Kurdi:
Menurut istilah yaitu ilmu yang dengan ilmu tersebut dapat diketahui keadaan jiwa yang terdiri dari terpujinya jiwa dan buruknya dan cara mensucikannya dari sifat tercela serta menghiasinya dengan sifat terpuji dan juga caranya beribadah, berjalan dan berlari kepada Allah.
Ma’ruf Al-Kurkhi
“Tasawuf adalah mengambil hakikat- hakikat dan tidak tertarik pada apa yang ada di tangan makhluk (kesenangan duniawi)”.
Jadi yang dimaksud dengan ilmu tasawu yaitu ilmu yang mempelajari usaha membersihkan diri, memerangi hawa nafsu, mencari jalan menuju kepada-Nya dengan menjalankan syariat yaitu meninggalkan perbuatan tercela dan menghiasi dengan perbuatan terpuji.
Para ahli tasawuf pada umumnya membagi tasawuf kepada tiga bagian. Pertama tasawuf falsafi, kedua tasawuf akhlaki dan ketiga tasawuf amali. Ketiga macam tasawuf ini tujuannya sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan tercela dan menghiasi diri dengan perbuatan yang terpuji.
Jadi untuk mencapai tujuan bertasawuf yang dicita-ditakan seseorang harus berakhlak baik terlebih dahulu. Orang yang bertasawuf akhlaknya harus baik dan terpuji karena ia bertujuan untuk mendekatkan diri kepda Allah.
Ketiga macam tasawuf ini berbeda dalam pendekatan yang digunakan. Pada tasawuf falsafi pendekatan yang digunakan adalah pendekatan rasio atau akal pikira, karena dalam tasawuf ini menggunakan bahan kajian atau pemikiran yang terdapat dikalangan para filosof, seperti filsafat tentang Tuhan, manusia, hubungan Tuhan dengan manusia. Selanjutnya pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akhlak yang tahapannya terdiri dari takhalli  yang berarti membersihkan diri sifat-sifat tercela, dari maksiat lahir dan maksiat batin. Tahalli berarti mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji, dengan taat lahir dan batin. Tajalli yang berarti terungkapnya nur ghaib untuk hati. Sedangkan tasawuf amali, pendekatan yang digunakan ialah pendelatan beramal seperti wirid dll, yang selanjutnya mengambil bentuk tarekat.
Dengan mengamalkan ketiga tasawuf tersebut atau salah satu dari ketiganya, maka seseorang akan berakhlak baik dengan sendirinya, tidak terpaksa dan juga secara sadar. Karena pada intinya tasawuf menyuruh untuk berakhlak baik, yang hal itu dapat mendekatkan diri kepada Allah.
Hubungan antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf lebih lanjut dapat kita ikuti uraian yang diberikan Harun Nasution. Menurutnya ketika mempelajari tasawuf ternyata pula bahwa al qur’an dan al hadist mementingkan akhlak. Al-Qur’an dan al-hadits menekankan nilai-nilai kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa kesosialan, keadila, tolong-menolong, murah hati, suka memberi maaf, sabar, baik sangka, berkata benar, pemurah, keramahan, bersih hati, berani, kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencintai ilmu dan berpikiran lurus. Nilai-nilai ini serupa dengan yang harus dimiliki oleh seorang muslim, dan dimasukkan kedalam dirinya dari semasa ia kecil.
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama dalam dalam ajaran tasawuf, ibadah mempunyai tempat yang amat penting. Karena pada hakekatnya beribadah tersebut mempunyai tujuan yaitu mendekatkan diri kepada Allah. Dan ibadah dalam agama islam sangat mempengaruhi akhlak  sesorang misalnya, sholat, puasa.
Dalam hubungan ini Harun Nasuton lebih lanjut lagi mengatakan, bahwa ibadah dalam Islam erat sekali hubungannya dengan pendidikan akhlak. Ibadah dalam al-Qur’an dikaitkan dengan taqwa, dan taqwa berarti melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Maka yang dinamakan orang yang bertaqwa yaitu orang yang berbuat baik dan menjauhi perbuatan jelek (tidak baik).
Hal inilah yang dimaksud ayat dalam al-Qur’an bahwa sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Maksudnya setiap ibadah apabila dikerjakan secara sungguh-sungguh akan mempunyai dampak positif bagi yang mengerjakan yaitu akan berakhlak baik dan mulia.
Harun Nasution lebih lanjut mengatakan, kaum sufilah, terutama yang pelaksanaan ibadahnya membawa kepada pembinaan akhlak mulia dalam diri mereka. Hal itu dalam istilah sufi disebut dengan Attakhaluq bi akhlaqillah, yaitu berbudi pekerti dengan budi pekerti Allah atau al-ittishaf bi shifatillah, yaitu menshifati diri dengan sifat-sifat yang dimiliki Allah.
Jadi pada intinya tasawuf dapat memperbaiki atau mengubah akhlak seseorang yang melakukan hal itu. Karena seseorang tersebut bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan orang yang mendekatkan diri kepada Allah harus berakhlak mulia dan terpuji.
C.    Hubungan Ilmu Akhlak Dengan Ilmu Tauhid
Ilmu tauhid mempunyai banyak nama, ilmu tauhid sendiri berarti ilmu yang bertujuan meng-Esakan Tuhan. Di samping itu ilmu tauhid juga dinamakan ilmu ushul al-din karena dipandang sebagai dasar pokok keagamaan, ada juga yang menamai dengan teologi yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti ketuhanan, ada juga yang menamai dengan nama ilmu kalam yang hal itu dikaitkan dengan kalam Allah yang ada dalam al-Qur’an.
Sedangkan secara istilah ilmu kalam menurut Muhammad Abduh ialah: ilmu yang berisi alasan-alasan/sekumpulan argumentasi guna mempertahankan kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan-bantahan terhadap pemikiran yang menyimpang dari kepercayaan salaf dan ahlu sunnah. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa ilmu tauhid ilmu yang berupaya meyakini dan memahami adanya Tuhan dengan segala sifat dan perbuatan-Nya.
Hubungan antara ilmu akhlak dengan ilmu tauhid dapat dilihat dengan melalui beberapa analisis sebagai berikut:
Pertama, dilihat dari obyek pembahasannya. Ilmu tauhid sebagaimana diuraikan diatas membahas masalah Tuhan baik dari segi zat, sifat dan perbuatanNya. Kepercayaan yang mantap kepada Tuhan yang demikian itu, akan menjadi landasan untuk mengarahkan amal perbuatan yang dilakukan manusia, sehingga amal perbuatan yang dilakukan manusia semata-mata akan tertuju karena Allah. Dengan demikian ilmu tauhid akan mengarahkan manusia menjadi ikhlas dan keikhlasan ini termasuk akhlak yang mulia.
Allah berfirman:
وما امروا الا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلواة ويؤتواالزكاة وذلك دين القيمة.
“padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan )agama dengan lurus.”
Kedua, dilihat dari segi fungsinya, ilmu tauhid menghendaki agar seseorang yang bertauhid tidak hanya cukup dengan menghapal rukun iman yang enam dengan dalil-dalilnya saja, tetapi yang terpenting adalah agar orang yang bertauhid itu meniru dan mencontoh terhadap subyek yang terdapat dalam rukun iman itu. Rukun iman erat sekali kaitannya dengan pembinaan akhlak yang mulia. Dalam al-Qur’an maupun as sunnah, iman dan amal saleh sering kali dijelaskan secara bersamaan.
Jika kita percaya kepada Allah dan Allah memiliki sifat-sifat yang mulia, maka sebaiknya manusia yang percaya meniru sifat-sifat Tuhan itu, contoh: Allah bersifat Maha pengasih dan Maha penyayang, maka sebaiknya manusia meniru sifat tersebut dengan mengembangkan kasih sayang dimuka bumi dan sesame manusia.
Jika orang beriman kepada malaikat, maka hendaklah manusia mengembangkan sifat yang dimiliki malaikat, seperti jujur, amanah, selalu konsequen terhadap perintah. Di samping itu percaya kepada malaikat akan melahirkan perasaan selalu diawasi oleh malaikat, maka manusia akan terdorong untuk berbuat baik dan berakhlak mulia. Allah berfirman:
ما يلفظ من قول الا لديه رقيب عتيد
“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”
Sementara itu beriman kepada kitab, khususnya al-Qur’an, maka seseorang akhlaknya harus sesuai dengan al-Qur’an, yaitu mengamalkan segala perintah dan menjauhi larangan yang sudah ditentukan dalam al-Qur’an. Dengan demikian hal itu akan mengakibatkan seseorang berakhlak mulia.
Selanjutnya beriman kepada rasul, khususnya Nabi Muhammad SAW dan para rasul pada umumnyam harus disertai dengan upaya mencontoh dan menerapkan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan al qur’an sendiri mengatakan bahwa nabi Muhammad itu berakhlak mulia seperti yang ada dalam surah al-ahzab ayat 21. Hal itu dapat diperkuat lagi dengan meniru sifat-sifat wajib rasul, maka akan menjadikan manusia berakhlak mulia.
Demikian pula beriman kepada hari akhir, dari sisi akhlak harus diimbangi dengan beramal yang baik karena segala amal perbuatan manusia di dunia akan dimintai pertanggungjawabannya nanti di akhirat. Maka dari itu keimanan kepada hari akhir akan dapat memotivasi seseorang untuk beramal yang sholeh dan orang yang beramal sholeh dan bertaqwa selalu orang yang berakhlak mulia.
Selanjutnya beriman kepada qada’ dan qadar (takdir) erat sekali kaitannya dengan akhlak . Seseorang yang beriman kepada qada’ dan qadar senantiasa bersyukur terhadap apa yang sudah ditakdirkan dan menerimanya dengan lapang dada. Hal ini termasuk akhlak yang mulia, karena orang biasanya sulit sekali menerima keadaan tersebut.
Berdasarkan analisis yang sederhana ini, tampak jelas bahwa rukun iman yang enam ternyata erat kaitannya dengan pembinaan akhlak yang mulia. Dengan demikian, dalam rangka pengembangan ilmu akhlak, bahan-bahannya dapat digali dari ajaran tauhid atau keimanan tersebut.
Hubungan ilmu tauhid dengan ilmu akhlak dapat pula dilihat dari eratnya iman dengan amal sholeh. Baik dalam al-Qur’an maupun al-hadist banyak sekali yang menyebutkan secara beriringan tentang iman dan amal sholeh karena keduanya saling berkaitan. Misalnya dalam al-Qur’an:
قد افلح المؤمنون. الذين هم في صلوتهم خاشعون. والذين هم عن اللغو معرضون. والذين هم عن الزكاة فاعلون. والذين هم لفرجهم حافظون.
“ sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang berima, yaitu mereka yang sholatnya khusyu’ dan yang menjauhkan diri dari (perkataan dan perbuatan) yang tidak berguna. Dan yang membayar zakat. Dan mereka yang menjaga kesopanan.”
Dan hadits:
لايؤمن احدكم حتى يحب لخيه ما يحب لنفسه
“ Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mau mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
Ayat dan hadits di atas merupakan contoh yang bertemakan iman yang mempunyai hubungan dengan akhlak baik. Maka dapat diambil kesimpulan dan dapat dilihat dengan jelas bahwa terdapat hubungan antara ilmu tauhid yang membahas keimanan dengan ilmu akhlak yang membahas perbuatan baik. Ilmu tauhid tampil sebagai memberikan landasan terhadap ilmu akhlak, dan ilmu akhlak memberikan penjabaran dan pengamalan dari ilmu tauhid. Ilmu tauhid tanpa akhlak yang mulia tidak ada artinya, dan akhlak mulia tanpa tauhid tidak akan kokoh. Selain itu tauhid memberikan pengarahan terhadap akhlak, dan akhlak memberi isi terhadap pengarahan tersebut. Maka di sinilah letak hubungan erat antara ilmu tauhid dengan ilmua akhlak.
D.     Hubungan Ilmu Akhlak Dengan Ilmu Jiwa(Psikologi)
Sebelum kita berbicara lebih jauh mengenai hubungan ilmu akhlak dengan ilmu jiwa, hendaklah kita melihat sejenak mengenai pengertian psikologi (ilmu jiwa).
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami perilaku manusia, alasan dan cara mereka melakukan sesuatu, dan juga memahami bagaimana makhluk tersebut berpikir dan berperasaan. Atau Edwin G Boring mendefinisikan psikologi secara lebih sederhana yakni “Psikologi ialah studi tentang hakekat manusia.”
Jadi psikologi adalah ilmu yang mempelajari jiwa yang didasarkan pada perilaku atau gejala yang nampak.
Dilihat dari bidang garapannya, Ilmu jiwa membahas tentang gejala-gejala kejiwaan yang tampak dalam tingkah laku. Melalui ilmu jiwa dapat diketahui sifat-sifat psikologis yang dimiliki seseorang. Jiwa yang bersih dari dosa dan maksiat serta dekat dengan Tuhan misalnya, akan melahirkan perbuatan dan sikap yang tenang pula, sebaliknya jiwa yang kotor, banyak berbuat kesalahan dan jauh dari Tuhan akan melahirkan perbuatan yang jahat, sesat dan menyesatkan orang lain. Dengan demikian ilmu jiwa mengarahkan atau memusatkan pembahasannya pada aspek batin dengan cara melihatnya melalui aspek yang tampak.
Di dalam al-Qur’an hal ini diungkapkan dengan istilah al insan  yaitu sesuatu yang berkaitan dengan manusia dan aktivitasnya, misalnya tentang belajar, tentang musuhnya, penggunaan waktunya, keterkaitannya dengan moralitas dan akhlak dan masih banyak lagi yang berkaitan dengan ini.
Sebenarnya hasil telaah diatas menggambarkan adanya hubungan yang erat antara potensi psikologi dengan ilmu akhlak. Atau dengan kata lain melalui bantuan informasi yang diberikan psikologi atau potensi yang diberikan oleh al qur’an, maka ilmu akhlak dapat dibengun dengan kokoh.
Hal ini lebih lanjut dapat kita jumpai dalam uraian mengenai akhlak yang diberikan oleh Quraish Shihab, dalam buku terbarunya wawasan al qur’an. Di situ ia antara lain mengatakan: kita dapat berkata bahwa secara nyata terlihat dan sekaligus kita akui bahwa terdapat manusia yang berkelakuan baik dan juga sebaliknya. Ini berarti menusia memiliki kedua potensi tersebut.
Namun demikian dalam kesimpulannya, Quraish Shihab berpendpat bahwa walaupun kedua potensi ini (baik dan buruk) terdapat dalam diri manusia, namun ditemukan isyarat-isyarat dalam Al Qur’an behwa kebajikan lebih dulu menghiasi diri manusia daripada kejahatan, dan bahwa pada dasarnya manusia cenderung pada kebajikan.
Kecenderungan manusia kepada kebajikan ini terbukti dari adanya persamaan konsep-konsep pokok moral pada setiap peradaban dan zaman. Perbedaan jika terjadi pada bentuk,  penerapan atau pengertian yang tidak sempurna dalam konsep-konsep moral yang disebut ma’ruf dalam bahasa al-Qur’an. Tidak ada peradaban yang menganggap baik kebohongan, penipuan atau keangkuhan. Tidak ada manusia yang menilai bahwa penghormatan kepada kedua orang tua adalah buruk.
Uraian tersebut memberikan pengertian bahwa manusia dapat mengetahui baik buruk dengan menggunakan akalnya, atau dirinya sendiri. Akan tetapi akal manusia yang dapat mengetahui baik buruk terbatas, maka dari itu masih memerluka informasi tentang baik buruk yang asalnya dari wahyu Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa sumber moral ajaran akhlak berasal dari akal pikiran dan potensi yang dimiliki manusia dan selanjutnya disempurnakan oleh petunjuk wahyu. Bukti mengenai hal itu dapat dijumpai dalam pemikiran teologi Muktazilah. Sekilas tentang pemikiran: pengetahuan tentang baik burk dapat diketahui dengan akal, dan jika manusia tidak dapat mengetahuinya dengan akal maka Tuhan wajib menurunkan wahyu-Nya.
Berdasarkan uraian di atas, maka Quraish Shihab lebih lanjut mengatakan bahwa tolok ukur kelakuan baik buruk mestilah merujuk kepada ketentuan Allah. Apa yang dinilai baik oleh Allah, pasti baik dalam esensinya. Demikian pula sebaliknya, tidak mungkin Dia menilai kebohongan sebagai kelakuan baik, karena kebohongan esensinya buruk.
Uraian di atas menjelaskan bahwa dalam diri manusia terdapat potensi ruhaniah yang cenderung kepada kebaikan dan keburukan. Potensi tersebut lebih mendalam lagi dikaji dalam ilmu psikologi. Jadi untuk dapat mengembangkan akhlak kita dapat memanfaatkan informasi dari psikologi.
Selain itu, di dalam ilmu jiwa juga terdapat informasi tentang perbedaan psikologis yang dialami seseorang pada setiap jenjang usianya. Gejala psikolgis    seperti ini akan memberikan informasi tentang perlunya menyampaikan ajaran akhlak sesuai dengan perkembangan jiwanya. Dalam kaitan ini dapat dirumuskan sejumlah metode dalam menanamkan akhlak yang mulia. Dengan demikian ilmu jiwa dapat juga memberikan masukan dalam rangka merumuskan metode dan pendekatan dalam pembinaan akhlak.
E.    Hubungan Ilmu Akhlak Dengan Ilmu Pendidikan
Menurut Prof. Brodjonegoro ilmu pendidikan atau paedagogi adalah teori pendidikan, perenungan tentang pendidikan. Dalam arti yang luas paedagogi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari soal-soal yang timbul dalam praktek pendidikan. Sebenarnya istilah pendidikan dalam bahasa arab yaitu tarbiyah, ta’dib atau ta’lim. Jadi pada intinya ilmu pendidikan adalah ilmu yang digunakan mempelajari proses pendewasaan manusia yang disertai tanggung jawab moral. Dalam ilmu ini dibahas : tujuan pendidikan, kurikulum, metode dll. Tetapi semua aspek pendidikan ditujukan pada tercapainya tujuan pendidikan.
Imam Ghazali mengatakan tujuan pendidikan agama Islam yang hendak dicapai adalah; pertama kesesmpurnaan manusia yang pada puncaknya adalah dekat dengan Allah. Kedua kesempatan manusia yang puncaknya kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kesempurnaan yang dimaksud adalah kebahagiaan didunia dan di akhirat serta menjadi insan kamil.
Di samping masih banyak ahli-ahli lain yang merumuskan tujuan pendidikan islam yang kami tidak etis kalau menyebutnya satu per satu disini. Pada intinya tujuan pendidikan islam adalah terbentuknya seorang hamba Allah yang patuh, tunduk serta melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya serta memiliki sifat-sifat dan akhlak yang mulia.
Rumusan ini dengan jelas menggambarkan bahwa antara pendidikan islam dan ilmu akhlak ternyata sangat berkaitan erat. Pendidikan islam merupakan sarana yang mengantarkan anak didik agar menjadi orang yang berakhlak.
Pendidikan dalam pelaksanaannya memerlukan dukungan orang tua di rumah, guru di sekolah dan pimpinan serta tokoh masyarakat di lingkungan. Kesemua lingkungan ini merupakan bagian integral dari pelaksanaan pendidikan yang berarti pula tempat dilaksanakan pendidikan akhlak.
F.    Hubungan Ilmu Akhlak Dengan Filsafat
Sebelum kita berbicara lebih jauh lagi, hendaklah kita mengetahui dahulu mengenai yang dimaksud filsafat. Pada asal katanya filsafat berasal dari kata Philosophia yang berarti cinta kepada kebenaran, juga ada  yang berasal dari bahasa Arab yaitu falsafah. I.R Poedjawijatna, filsafat ialah ilmu yang berusaha mencari sebab sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.
Berpikir filsafat harus memenuhi beberapa kriteria antara lain harus sistematis, harus konsepsional, harus koheren, harus rasional, harus sinoptik(menyeluruh) harus mengarah kepada pandangan dunia. Jadi dalam berpikir filsafat yang dibahas ialah hakikat segala sesuatu, dan sifatnya menyeluruh juga radikal.
Diantara obyek filsafat yang erat kaitannya dengan ilmu akhlak adalah tentang manusia. Para filosof muslim seperti Ibn Sina (980-1037M) dan al Ghazali memiliki pemikiran tentang manusia sebagaimana terlihat dalam pemikirannya tentang jiwa.
Ibn Sina misalnya mengatakan bahwa jiwa manusia merupakan satu unit tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan, yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir di dunia ini. Sungguhpun jiwa manusia tak mempunyai fungsi-fungsi fisik, dan dengan demikian tak berhajat pada berpikir, jiwa masih berhajat pada badan. Karena pada permulaan wujudnya, badanlah yang menolong jiwa manusia untuk dapat berpikir. Pancaindra dan daya-daya jiwa yang lain yang menolong jiwa untuk memperoleh konsep dan ide dari alam sekelilingnya. Jiwa manusia telah mencapai kesempurnaan sebelum ia berpisah dengan badan, maka selamanya ia berada dalam kesenangan, jika ia berpisah ia tidak sempurna, karena ketika bersatu dengan badan ia dipengaruhi hawa nafsu badan, maka ia akan menyesal selamanya. Uraian di atas memberikan petunjuk bahwa dalam pemikiran filsafat terdapat bahan atau sumber yang dapat dikembangkan  lebih lanjut menjadi sebuah konsep akhlak.
Al-Ghazali membagi manusia ke dalam tiga golongan, yaitu sebagai berikut: kaum awam, yang cara berfikirnya sederhana sekali. Kaum pilihan (khavas; elect) yang akalnya tajam dan berpikir secara mendalam. Kaum ahli debat (ahl al-jadl). Pembagian ini didasarkan pada berbeda-bedanya sifat-sifat mereka.
Pemikiran Al Ghazali ini memberi petunjuk adanya perbedaan cara dan pendekatan dalam menghadapi orang sesuai dengan tingkat dan daya tangkapnya. Pemikiran yang demikian akan membantu dalam merumuskan metode, cara, dan pendekatan yang tepat dalam mengajarkan akhlak.
Gambaran tentang manusia yang terdapat dalam pemikiran filosofis itu akan memberika masukan yang amat berguna dalam merancang dan merencanakan tentang cara-cara membina manusia, memperlakukannya, berkomunikasi dengannya dan sebagainya. Dengan cara demikian akan tercipta pola hubungan yang dapat dilakukan dalam menciptakan kehidupan yang aman dan damai.
Selain itu filsafat juga membahas tentang Tuhan, alam dan makhluk lainnya. Dari pembahasan ini akan dapat diketahui dan dirumuskan cara berhubungan dengan Tuhan dan makhluk lainnya. Dengan demikian akan diwujudkan akhlak yang baik terhadap Tuhan, tehadap manusia, alam dan makhluk Tuhan lainnya.
G.     Kesimpulan
  1. Pengamalan tasawuf baik falsafi, akhlaki dan amali akan dapat mengubah akhlak seseorang yang menjalankan hal itu. Jadi dengan tasawuf akhlak seseorang akan berubah menjadi baik.
  2. Orang yang mempelajari ajaran tauhid dan mengamalkan sesuai dengan ajarannya itu akan menjadi berakhlak mulia. Karena orang tersebut selalu merasa diawasi oleh Allah SWT.
  3. Konsep-konsep kejiwaan yang diberikan oleh Ilmu jiwa akan dapat digunakan untuk pembinaan akhlak. Dan juga ilmu akhlak dapat dibangun dengan menggunakan informasi yang diberikan oleh ilmu jiwa.
  4. Pendidikan Islam merupakan sarana yang mengantarkan anak didik agar menjadi orang yang berakhlak. Karena tujuan pendidikan islam adalah membentuk insan kamil. Disamping itu tempat pelaksanaan pendidikan juga merupakan tempat pelaksanaan pendidikan akhlak.
  5. Filsafat yang pemikirannya terdapat studi mengenai hakekat manusia dapat menjadi masukan yang berguna dalam merencanakan dan merancang cara-cara membina manusia dan metode juga pendekatan yang tepat untuk membina akhlak.

AKHLAH



A.                Pengertian Akhlak
Secara etimologis akhlak adalah bentuk jamak dari khuluq yang artinya budi pekerti, tingkah laku, perangai atau tabiat. Kata akhlak mempunyai sinonim dengan etika dan moral. Etika dan moral berasal dari bahasa Latin yang berasal dari kata etos yaitu kebiasaan dan mores artinya kebiasaannya. Kata akhlak berasal dari kata kerja khalaqa yang artinya menciptakan. Khaliq maknanya pencipta atau Tuhan dan makhluq artinya yang diciptakan, sedangkang khalaq maknanya penciptaan. Kata khalaqa yang mempunyai kata yang seakar di atas mengandung maksud bahwa akhlak merupakan jalinan yang mengikat atas kehendak Tuhan dan manusia. Pada makna lain kata akhlak dapat diartikan tata prilaku seseorang terhadap orang lain. Jika prilaku ataupun tindakan tersebut didasarkan atas kehendak Khaliq (Tuhan) maka hal itu disebut sebagai akhlak hakiki. Dengan demikian akhlak dapat dimaknai tata aturan atau norma prilaku yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan serta alam semesta.
Pengertian akhlak secara terminologis menurut ulama:
 
a)         Menurut Imam Gazali:
الخلق عبارة عن هيئة في النفس راسخة عنها تصدر الأفعال بسهولة ويسر من غير

حاجة إلى فكر ورؤية

Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia) yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran maupun pertimbangan. Atau boleh juga dikatakan sudah menjadi kebiasaan. Orang yang pemurah sudah biasa memberi. Ia memberi itu tanpa banyak pertimbangan lagi. Seolah-olah tangannnya suda terbuka lebar untuk itu. Begitu juga orang kikir. Seolah-olah tangannya sudah terpaku saja dalam kantongnya, tidak mau mengulurkan bantuan kepada fakir miskin. Begitu juga orang pemarah. Selalu saja marah tanpa ada alasan.

b)         Menurut Ibnu Maskawaih:

الخلق حال للنفس داعية لها إلى أفعالها من غير فكر وروية

Akhlak adalah gerak jiwa yang mendorong ke arah melakukan perbuatan dengan tidak membutuhkan pikiran.

c) Menurut Ahmad Amin:
الخلق عادة الإرادة

Khuluq (akhlak) adalah membiasakan kehendak.
Sebagian ulama mengatakan akhlak itu ialah suatu sifat yang terpendam dalam jiwa seseorang dan sifat itu akan timbul waktu ia bertindak tanpa merasa sulit (timbul dengan mudah). Pendapat itu tidak jauh bebeda dengan pendapat Imam Gazali.
Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting sekali, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dan bangsa. Sebab jatuh bangunnya, jaya hancurnya, sejahtera-rusaknya sesuatu bangsa dan masyarakat tergantung keadaan bagaimana akhlaknya. Apabila akhlaknya baik (berakhlak), akan sejahteralah lahir-batinnya, akan tetapi apabila akhlaknya buruk (tidak berakhlak), rusaklah lahirnya atau batinnya.

B.                Hubungan Akhlak dengan Ilmu Tasawuf
Tasawuf adalah salah satu cabang ilmu Islam yang menekankan dimensi atau aspek spiritual dari Islam. Spiritualitas ini dapat mengambil bentuk yang beraneka ragam di dalamnya. Dalam kaitannya dengan manusia, tasawuf lebih menekankan aspek rohaninya dibandingkan aspek jasmaninya. Dalam kaitannya dengan kehidupan, tasawuf lebih menekankan kehidupan akhirat dibandingkan dengan  kehidupan dunia yang fana, sedangkan dalam kaitannya dengan pemahaman keagamaan, tasawuf penafsiran batini dibanding penafsiran lahiriah. Tasawuf lebih menekankan spiritualitas dalam berbagai aspeknya karena para ahli tasawuf, yang kita sebut sufi, memercayai keutamaan spirit dibanding jasad, memercayai dunia spiritual dibanding dunia material.
Para ahli ilmu tasawuf pada umumnya membagi tasawuf kepada tiga bagian. Pertama tasawuf falsafi, kedua tasawuf akhlaki, dan ketiga tasawuf amali. Ketiga macam tasawuf ini tujuannya yaitu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghias diri dengan perbuatan yang terpuji. Dengan demikian dalam proses pencapaian tujuan bertasawuf seseorang harus terlebih dahulu berakhlak mulia. Ketiga macam tasawuf ini berbeda dalam hal pendekatan yang digunakan.
Pada tasawuf falsafi pendekatan yang digunakan adalah pendekatan rasio atau akal pikiran, karena dalam tasawuf ini menggunakan bahan-bahan kajian atau pemikiran yang terdapat pada kalangan filosof, seperti filsafat tentang Tuhan, manusia, hubungan manusia dengan Tuhan dan lain sebagainya. Selanjutnya pada tasawuf akhlaki pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akhlak yang tahapannya terdiri dari takhalli (mengosongkan diri dengan akhlak yang buruk), tahalli (menghiasinya dengan akhlak terpuji), tajalli (terbukanya dinding penghalang atau hijab) yang membatasi manusia dengan Tuhan, sehingga Nur Ilahi tampak jelas padanya. Sedangkan pada tasawuf amali pendekatan yang digunakan adalah pendekatan amaliah atau wirid, yang selanjutnya mengambil bentuk tarikat. Dengan mengamalkan tasawuf baik yang bersifat falsafi, akhlaki atau amali, seseorang dengan sendirinya berakhlak baik. Perbuatan yang demikian itu ia lakukan dengan sengaja, sadar, pilihan sendiri, dan bukan karena terpaksa.
Hubungan antara ilmu akhlak dengan ilmu tasawuf lebih lanjut dapat kita ikuti uraian yang diberikan Harun Nasution. Menurutnya ketika mempelajari tasawuf, bahwa Al-Quran dan Al-Hadist mementingkan akhlak. Al-Quran dan Al-Hadist menekankan kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa kesosialan, keadilan, tolong–menolong, murah hati, suka memberi maaf, sabar, baik sangka, berkata benar, pemurah, keramahan, bersih hati, berani, kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencintai ilmu, dan berpikir lurus. Nilai-nilai serupa ini yang harus dimiliki oleh seorang muslim, dan dimasukkan ke dalam dirinya dari semasa ia kecil.
Sebagaimana diketahui bahwa dalam tasawuf masalah ibadah amat menonjol, karena bertasawuf itu pada hakikatnya melakukan serangkaian ibadah seperti shalat, puasa, haji, zikir, dan lain sebagainya, yang semuanya itu dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah yang dilakukan dalam rangka bertasawuf itu ternyata erat hubungannya dengan akhlak. Dalam hubungan ini Harun Nasution lebih lanjut mengatakan, bahwa ibadah dalam Islam erat sekali hubungannya dengan pendidikan akhlak. Ibadah dalam Al-Quran dikaitkan dengan takwa, dan takwa berarti melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya, yaitu orang yang berbuat baik dan jauh dari yang tidak baik. Inilah yang dimaksud dengan ajaran amar ma’ruf nahi munkar, mengajak orang pada kebaikan dan mencegah orang dari hal-hal yang tidak baik. Tegasnya orang yang bertakwa adalah orang yang berakhlak mulia. Harun Nasution lebih lanjut mengatakan, kaum sufilah, terutama yang pelaksanaan ibadahnya membawa kepada pembinaan akhlak mulia dalam diri mereka. Hal itu, dalam istilah sufi disebut dengan al-takhalluq bi akjlaqillah, yaitu berbudi pekerti dengan budi pekerti Allah, atau al-ittishab bi shifatillah, yaitu mensifati diri dengan sifat-sifat yang dimiliki Allah.

C.                Hubungan Akhlak dengan Ilmu Kalam
Ilmu kalam atau ilmu tauhid sebagaimana dikemukakan Harun Nasution mengandung arti sebagai ilmu yang membahas tentang cara-cara meng-Esakan Tuhan, sebagai salah satu yang terpenting di antara sifat-sifat Tuhan lainnya. Selain itu ilmu ini juga disebut sebagai Ilmu Ushul al-Din dan oleh karena itu buku yang membahas soal-soal teologi dalam Islam selalu diberi nama Kitab Ushul al-Din. Dinamakan demikian karena masalah yang pokok dalam Islam. Selain itu ilmu ini juga dikatakan dengan ilmu aqa’id, credo atau keyakinan-keyakinan, dan buku-buku yang menguppas tentang keyakinan-keyakinan diberi judul al-Aqa’id (ikatan yang kokoh).
Selanjutnya ilmu tauhid disebut pula Ilmu Kalam yang secara harfiah berarti ilmu tentang kata-kata. Kalau yang dimaksud dengan kalam adalah sabda Tuhan, maka yang dimaksud adalah kalam Tuhan yang ada di dalam Al-Quran, dan masalah ini pernah menimbulkan perbincangan bahkan pertentangan keras di kalangan ummat Islam di abad kesembilan dan kesepuluh Masehi sehingga menimbulkan pertentangan dan penganiayaan terhadap sesama muslim.
Selanjutnya yang dimaksud dengan kalam adalah kata-kata manusia, maka yang dimaksud dengan ilmu kalam adalah ilmu yang membahas tentang kata-kata atau silat lidah dalam rangka mempertahankan pendapat dan pendirian masing-masing. Ilmu kalam adalah ilmu ushuluddin, ilmu pokok-pokok agama, yakni menyangkut aqidah dan keimanan. Akhlak yang baik menurut pandangan Islam haruslah berpijak pada keimanan. Iman tidak cukup sekedar disimpan dalam hati, melainkan harus dilahirkan dalam perbuatan yang nyata dan dalam bentuk amal shaleh, barulah dikatakan iman itu sempurna, karena telah dapat direalisir.
Dari berbagai istilah yang berkaitan dengan ilmu tauhid maka kita dapat memperoleh kesan yang mendalam bahwa Ilmu tauhid itu pada intinya berkaitan dengan upaya memahami dan meyakini adanya Tuhan dengan segala sifat dan perbuatan-Nya. Juga termasuk pula pembahasan ilmu tauhid yaitu rukun Iman.
Jelaslah akhlaqul karimah adalah mata rantai iman. Sebagai contoh, malu (berbuat kejahatan) adalah salah satu daripada akhlaqul mahmudah. Nabi dalam salah satu hadist menegakan bahwa “Malu itu adalah cabang dari pada keimanan”.
Sebaliknya, akhlak yang dipandang buruk adalah akhlak yang menyalahi prinsip-prinsip iman. Seterusnya sekalipun sesuatu perbuatan pada akhirnya baik, tetapi titik tolaknya bukan karena iman, maka hal itu tidak mendapat penilaian di sisi Allah SWT. Demikianlah adanya perbedaan nilai amal-amal baiknya orang beriman dengan amal-amal baiknya orang yang tidak beriman.
Hubungan antara aqidah dan akhlak tercermin dalam pernyataan Rasulullah Saw yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a “Orang mu’min yang sempurna imannya ialah yang terbaik budi pekertinya.” (Riwayat at-Tirmidzi)
Hubungan ilmu akhlak dengan ilmu kalam atau ilmu tauhid sekurang-kurangnya dapat dilihat sebagai berikut:

1.                  Dilihat dari segi objek pembahasannya
Ilmu kalam atau ilmu tauhid membahas masalah Tuhan baik dari segi zat, sifat dan perbuatan-Nya. Kepercayaan yang mantap kepada Tuhan yang demikian itu akan menjadi landasan untuk mengarahkan amal perbuatan yang dilakukan manusia itu akan tertuju semata-mata karena Allah SWT. Dan untuk mengarahkan manusia menjadi ikhlas, dan keikhlasan ini merupakan salah satu akhlak yang mulia. Allah SWT berfirman:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (QS. Al-Bayyinah, 98: 5)

2.                  Dilihat dari segi fungsinya
Ilmu kalam atau tauhid menghendaki agar seseorang yang bertauhid tidak hanya cukup dengan menghapal rukun iman dengan dalil-dalilnya saja, tetapi yang terpenting adalah orang yang bertauhid itu meniru dan mencontoh terhadap subjek yang terdapat dalam rukun iman itu. Jika kita percaya bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang mulia, maka sebaiknya manusia yang bertauhid meniru sifat-sifat Allah itu. Adapun rukun iman yang harus dibina itu adalah:
a.                   Beriman kepada Allah
Jika seorang beriman kepada Allah dan percaya kepada sifat-sifatnya yang sembilan puluh sembilan itu maka Asmaul Husna itu harus dipraktikkan dalam kehidupan. Dengan cara demikian beriman kepada Allah akan memberi pengaruh terhadap pembentukan akhlak yang mulia.

b.                  Beriman kepada malaikat
Yang dimaksud disini adalah agar manusia meniru sifat-sifat terpuji yang terdapat pada malaikat, seperti jujur, amanah, tidak pernah durhaka, dan patuh dalam melaksanakan segala yang diperintahkan Tuhan.
c.                   Beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Tuhan (Al-Quran)
Secara akhlaki harus diikuti dengan upaya menjadikan Al-Quran sebagai wasit, hakim serta imam dalam kehidupan. Secara tidak sengaja maka kita mengikuti akhlak yang sesuai dengan akhlak yang terdapat dalam Al-Quran.
d.                  Beriman kepada Rasul-rasul Allah
Dalam diri para rasul terdapat akhlak yang mulia. Khususnya pada diri Rasulullah Muhammad Saw. Kita sebagai manusia diperintahkan untuk mencontoh akhlak yang ada pada diri Rasul Saw. Dengan cara demikian beriman kepada para rasul akan menimbulkan akhlak yang mulia. Hal ini dapat diperkuat lagi dengan cara meniru sifat-sifat yang wajib pada Rasul, yaitu sifat shidik (jujur), amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan ajaran sesuai dengan perintah Allah), dan fathanah (cerdas).
e.                   Beriman kepada hari akhirat
Dari sisi akhlaki harus disertai dengan upaya menyadari bahwa selama amal perbuatan yang dilakukan selama di dunia ini akan dimintakan pertanggung jawabannya nanti. Kebahagiaan hidup di akhirat yang ditentukan oleh amal perbuatan yang baik dan sebanyak-banyaknya akan mendorong seseorang memiliki etos kerja untuk selalu melakukan perbuatan yang baik selama hidupnya di dunia ini.
f.                   Beriman kepada qada’ dan qadar
Agar orang yang percaya kepada qada’ dan qadar Tuhan itu senantiasa mau bersyukur terhadap keputusan Tuhan dan rela menerima segala keputusan-Nya. Perbuatan yang demikian merupakan perbuatan akhlak yang mulia.

3.         Dilihat dari eratnya kaitan antara iman dan amal shalih.
Hubungan antara iman dan amal shalih banyak sekali kita jumpai di dalam Al-Quran maupun hadist. Misalnya:
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. Al-Nisa, 4: 65).
Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh. Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-Nur, 24: 51).
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya”. (QS. Al-Anfal, 8: 2-4).
Jika kita perhatikan ayat-ayat tersebut secara seksama akan tampak bahwa ayat-ayat tersebut seluruhnya bertemakan keimanan dalam hubungannya dengan akhlak mulia. Ayat-ayat tersebut dengan jelas bahwa keimanan harus dimanifestasikan dalam perbuatan akhlak dalam bentuk kerelaan dalam menerima keputusan yang diberikan Nabi terhadap perkara yang diperselisihkan di antara manusia, patut dan tunduk terhadap keputusan Allah dan rasulnya, bergetar hatinya jika dibacakan ayat-ayat Allah, bertawakal, melaksanakan shalat dengan khusyu’, berinfaq di jalan Allah, menjauhi perbuatan yang tidak ada gunanya, menjaga farjinya, dan tidak ragu-ragu dalam berjuang di jalan Allah SWT. Maka disinilah letaknya hubungan antara keimanan dengan pembentukan ilmu akhlak.
Dari uraian di atas dapat dilihat dengan jelas hubungan antara keimanan yang dibahas dalam ilmu kalam atau ilmu tauhid dengan perbuatan yang dibahas dalam ilmu akhlak. Ilmu kalam tampil dalam memberikan landasan terhadap ilmu akhlak, dan ilmu akhlak tampil dengan memberikan penjabaran dan pengalaman dari ilmu kalam atau ilmu tauhid. Tauhid tanpa akhlak yang mulia tiada artinya, dan akhlak yang mulia tampa tauhid maka tidak akan kokoh. Selain itu tauhid memberikan arah terhadap akhlak, dan akhlak memberi isi terhadap arahan tersebut.

D.                Hubungan Akhlak  dengan Imu Filsafat
Filsafat diambil dari bahasa arab yaitu falsafah, dari bahasa Yunani pilosophia, kata majemuk yang terdiri dari kata philos yang artinya cinta atau suka, dan kata shopia yang artinya bijaksana. Dengan demikian, secara etimologis kata filsafat memberikan pengertian cinta kebijaksanaan. Orangnya disebut pilosopher atau failasuf (istilah failasuf, lihat ibn Mandzur dalam lisan al-Arab). Secara terminologis, filsafat mempunyai arti yang bermacam-macam, sebanyak orang yang memberikan pengertian atau batasan. Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha menyelidiki segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dengan mengunakan pikiran. Bagian-bagiannya meliputi:
a.         Metafisika       : penyelidikan di balik alam nyata
b.        Kosmologia     : penyelidikan tentang alam (filsafat alam)
c.         Logika             : pembahasan tentang cara berpikir cepat dan tepat
d.        Etika               : pembahasan tentang tingkah laku manusia
e.         Theodicea                   : pembahasan tentang ketuhanan
f.         Antropolgi       : pembahasan tentang manusia
Dengan demikian, jelaslah bahwa etika atau akhlak termasuk salah satu komponen dalam filsafat. Banyak ilmu-ilmu yang pada mulanya merupakan bagian filsafat karena ilmu tersebut kian meluas dan bekembang yang pada akhirnya membentuk rumah tangganya sendiri dan terlepas dari filsafat. Demikian juga etika atau akhlak dalam proses perkembangannya, sekalipun masih diakui sebagai bagian dalam pembahasan filsafat, kini telah merupakan ilmu yang mempunyai identitas sendiri.
Filsafat sebagaimana diketahui adalah suatu upaya berpikir mendalam, radikal, sampai ke akar-akarnya, universal dan tematik dalam rangka menemukan inti atau hakikat mengenai segala sesuatu. Di dalam filsafat segala sesuatu dibahas untuk ditemukan hakikatnya.
Di antara filsafat objek pemikiran filsafat yang erat kaitannya dengan ilmu akhlak adalah tentang manusia. Para filosof Muslim seperti Ibn Sina (980-1037 M.) dan al-Gazali (1059-1111 M.) memiliki pemikiran tentang manusia sebagaimana terlihat dalam pemikirannya tentang jiwa.
 Pemikiran filsafat tentang jiwa yang dikemukakan Ibn Sina merupakan petunjuk bahwa dalam pemikiran filsafat terdapat bahan-bahan atau sumber yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi konsep ilmu akhlak.
Pemikiran al-Gazali ini memberikan petunjuk adanya perbedaan cara pendekatan dalam menghadapi seseorang sesuai dengan tingkat dan daya tangkapnya. Pemikiran yang demikian akan membantu dalam merumuskan metode dan pendekatan yang tepat dalam mengajarkan akhlak.
Pemikiran tentang manusia dapat pula kita jumpai pada Ibn Khaldun. Dalam pemikiran Ibn Khaldun tampak bahwa manusia adalah makhluk budaya yang kesempurnaannya baru akan tewujud manakala ia berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Ia menunjukkan tentang perlunya pembinaan manusia, termasuk dalam pembinaan manusia dalam pembinaan akhlaknya.
Manusia dalam konteks insan adalah manusia yang berakal yang memerankan diri sebagai subjek kebudayaan dalam pengertian ideal. Gambaran tentang manusia yang terdapat dalam pemikiran filosof itu akan memberikan masukan yang amat berguna dalam merancang dan merencanakan tentang cara-cara membina manusia, memperlakukannya, berkomunikasi dengannya dan sebagainya. Dengan cara demikian akan tercipta pola hubungan yang dapat dilakukan dalam menciptakan kehidupan yang aman dan damai.

E.                Hubungan Akhlak dengan Ilmu Pendidikan
Pendidikan adalah proses yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam rangka untuk membantu perkembangan potensi peserta didik guna memiliki kompetensi yang diharapkan oleh masyarakat. Pendidikan paling tidak mengembangkan tiga dimensi individu manusia, yaitu dimensi pikir (akliah), dimensi dzikir (hati), dan dimensi badan (jasadiah). Ketiga dimensi tersebutlah yang akan dikembangkan dalam dunia pendidikan. Dengan demikian, pendidikan merupakan alat atau media dalam mengembangkan dimensi yang ada dalam diri manusia.
Tujuan pokok akhlak ialah "agar setiap manusia berbudi pekerti (berakhlak), bertingkah laku, berperangai atau beradat istiadat yang baik, yang sesuai dengan ajaran Islam". Masih mengenai tujuan akhlak menurut Akmal Hawi ialah "agar setiap manusia dapat bertingkah laku dan bersifat baik serta terpuji”. Akhlak yang mulia terlihat dari penampilan sikap pengabdianya kepada Allah SWT, dan kepada lingkungannya baik kepada sesama manusia maupun terhadap alam sekitarnya. Dengan akhlak yang mulia manusia akan mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat.
               Akhlak dan pendidikan sangat berkaitan dengan erat. Seseorang tanpa mendapatkan pendidikan yang baik tidak dapat berakhlak dengan baik pula. Orang yang berakhlak baik, melakukan kebaikan secara spontan tanpa pamrih apapun, demikian juga orang yang berakhlak buruk, melakukan keburukan secara spontan tanpa mempertimbangkan akibat bagi dirinya maupun bagi yang dijahati. Manusia tidak ada yang secara tiba-tiba menjadi orang bijak atau tiba-­tiba menjadi penjahat besar. Untuk menjadi orang bijak atau menjadi penjahat besar manusia butuh proses yang mengantarnya pada keadaan itu. Karena akhlak adalah keadaan batin, maka pendidikan akhlak objeknya adalah batin seseorang. Meski demikian bukan berarti menafikan yang lahir, karena antara lahir dan batin ada hubungan saling mempengaruhi. Orang yang hatinya baik, pada umumnya perilaku lahirnya (sopan santunnya) baik, tetapi tidak semua orang yang memiliki sopan santun akhlaknya baik. Penanaman disiplin atau pembiasaan pola tingkah laku lahir yang baik (sopan santun), pada orang tertentu dapat menjadi proses pembentukan akhlak yang baik, tapi pada orang lain bisa juga menumbuhkan sifat munafik (pura-pura baik). Demikian juga pembiasaan pola tingkah laku buruk, pada seseorang bisa menjadikannya orang jahat, tetapi pada orang lain mungkin akan melahirkan sikap resistensi secara ekstrim kepada keburukan. Hal itu disebabkan karena setiap orang sebenarnya memiliki "modal" kepribadian atau kapasitas yang berbeda-beda, ada yang kuat dorongan kebaikannya dan ada yang sebaliknya.
Kebanyakan ahli-ahli pendidikan berpendapat bahwa anak-anak didik dalam suatu ruangan kelas hendaknya sebaya umurnya dan tingkatkan kecerdasannya. Hal itu untuk menjaga agar budi pekerti mereka tidak terpengaruhi oleh anak-anak didik yang lebih berumur atau yang lebih tua yang sudah mengetahui bermacam-macam perbuatan yang tidak baik di luar sekolah. Pergaulan menjadikan anak-anak didik hampir serupa tingkah lakunya. Seolah-olah mereka sudah bersatu dalam tindak tanduknya. Mungkin semua menjadi baik atau sebaliknya. Begitu pun menularnya sifat buruk atau baik, sabda Rasulullah “Sifat seseorang sama dengan orang yang disukainya (teman sepergaulan).